Membandingkan Kemerdekaan Malaysia dan Indonesia

-

Pada 31 Agustus nanti Malaysia merayakan kemerdekaannynya. Sementara itu, pada 17 Agustus kemarin, Indonesia merayakan kemerdekaannya. Bagaimana jika detik-detik kemerdekaan kedua negara itu diperbandingkan?
Kuala Lumpur sedang diguyur hujan lebat ketika puluhan ribu orang berduyun-duyun menuju Stadion Merdeka. Pagi, 31 Agustus 1957 itu, upacara penyerahan kedaulatan dari tangan Inggris akan digelar.
Tunku Abdul Rahman, seorang alumnus Universitas Cambridge yang didaulat menjadi Perdana Menteri, sudah bersiap-siap membacakan teks pemasyhuran kemerdekaan. Saat hujan reda, sekitar pukul 8, upacara pemasyhuran kemerdakaan Malaysia pun dimulai.
“Bahawasanya kerana telah tibalah masanya bagi umat Persekutuan Tanah Melayu ini mencapai taraf suatu bangsa yang merdeka lagi berdaulat sama setimpal kedudukannya dengan segala bangsa seluruh dunia.”
Di hadapan lautan manusia, di Stadion Merdeka Kuala Lumpur, Tunku Abdul Rahman mengucapkan kata-kata itu untuk menandai kemerdekaan Tanah Melayu. Sejak itu, secara de facto dan de jure, Malaysia bukan lagi jajahan Inggris, walau saat itu Indonesia tetap mencurigainya sebagai “Negara Boneka Inggris”.
Pemasyhuran kemerdekaan itu dipersiapkan dengan matang. Pada pukul 24.00 tanggal 30 Agustus 1957, digelar upacara penurunan bendera Inggris, Union Jack, di Padang Kelab Selangor, Kuala Lumpur. Ini untuk menandai berakhirnya penjajahan Inggris di Tanah Melayu, sekaligus menandai lahirnya Negara baru yang “berdaulat, setaraf dan setimpal dengan semua negara-negara yang berdaulat di dunia”. Bendera Persekutuan Tanah Melayu pun dikibarkan.
Pagi harinya, tujuh battalion tentara Malaysia ikut dalam arak-arakan menuju Stadion Merdeka. Merdeka terdiri dari Rejimen Persekutuan, Skuadron Isyarat, Skuadron Jurutera, Tentera Laut Diraja Tanah Melayu, Tentera Laut Simpanan Diraja Tanah Melayu dan Askar Sivil Persekutuan.
Para sultan, tokoh masyarakat, dan sesepuh turut hadir. Demikian juga Sir Donald MacGillivray yang menjadi orang nomor satu di Malaysia sebelum merdeka. Tampak pula pemimpin-pemimpin negara persemakmuran Inggris atau Commonwealth.
Sejumlah pemimpin negara tetangga juga turut menjadi saksi pemasyhuran kemerdekaan Malaysia.Di antara mereka adalah pemimpin Thailand, Vietnam, Burma, Kamboja, Singapura, Jepang, India, Pakistan, Hongkong, Jepang, India, Pakistan, Afrika Selatan, dan lain-lain.
Upacara pemasyhuran ini punya gaung yang kencang di dunia internasional. Apalagi, dengan persiapan yang cukup, acara ini diliput media-media internasional dan disiarkan ke seantero dunia.
Secara keseluruhan, pemasyhuran kemerdekaan Malaysia berbeda jauh dengan proklamasi kemerdekaan Indonesia. Tanpa persiapan yang matang, upacara proklamasi itu hanya dilangsungkan di kediaman Sukarno, di Jalan Pegangsaan Timur 56, Jakarta Pusat, dan bukan di Lapangan Ikada (Monas) yang biasa digunakan untuk menghimpun massa. Karena itu, detik-detik pembacaan teks proklamasi pun tidak dihadiri ribuan rakyat.
Malam hari, 16 Agustus 1945, duet Sukarno-Hatta diculik para pemuda di Rengasdenglok. Dwi tunggal ini dipaksa agar segera memproklamasikan kemerdekaan Indonesia esok hari. Sukarno sendiri sebenarnya menilai tanggal 17 Agustus terlalu mepet. Segala sesuatunya belum dipersiapkan dengan matang, walaupun sebelumnya sudah dibahas di BPUPKI dan PPKI.
Teks proklamasi juga dibikin secara kilat di rumah Laksamana Maeda, di Jalan Imam Bonjol 1, Jakarta Pusat, oleh Sukarno, Hatta, dan Ahmad Soebarjo. Karena itu, bila dilihat versi aslinya, teks proklamasi penuh dengan coret-coretan tulisan tangan. Isinya singkat dan padat.
“Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.”
Bung Karno membaca teks proklamasi itu untuk menandai lepasnya Indonesia dari belenggu penjajah. Setelah itu, sang saka merah putih dikibarkan dan hadirin menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Tak ada perwakilan Negara-negara lain yang menghadiri upacara proklamasi itu. Jepang, si penjajah yang kalah perang melawan Amerika, juga tidak menggelar seremoni resmi sebagai tanda penyerahan kedaulatan ke tangan bangsa Indonesia.
Berantem
Ketika Malaysia menggelar upacara pemasyhuran kemerdekaan, Indonesia tidak hadir. Sikap yang sama diambil Filipina. Kedua negara bertetangga ini dari awal memang menolak berdirinya Malaysia yang berdaulat. Dengan konsep Indonesia Raya-nya,Indonesia bahkan berkomitmen untuk ‘membebaskan’ Malaya dari neo-kolonialisme. Caranya adalah menjadikan Negara serumpun ini tunduk di bawah NKRI.
Konflik Indonesia-Malaysia kian mendidih saat memperebutkan Singapura, Sabah dan Serawak. Pada 31 Agustus 1963, Singapura, serta Sabah dan Serawak yang berada di pulau Kalimantan itu melepaskan diri dari cengkraman Inggris. Ketiganya menggabungkan diri dengan Federasi Malaysia.
Dengan slogan “Ganyang Malaysia”, Indonesia menolak keras hal itu. Karena terlibat konfrontasi, maka baru pada 16 September 1963, Sabah dan Serawak resmi menjadi negara bagian Malaysia. Sementara itu, pada 7 Agustus 1965, Singapura melepaskan diri Malaysia dan menjadi negara yang berdiri sendiri.
Kini Indonesia dan Malaysia hendak berantem lagi. Di usianya yang sudah berkepala enam, Indonesia mestinya bisa lebih bijaksana. Demikian juga Malaysia yang telah berkepala lima. Tidak bisakah nasionalisme itu dikobarkan tanpa mengorbankan persaudaraan sebagai sesama manusia Melayu?

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Dreamteknopedia. Diberdayakan oleh Blogger.