Uniknya Kupat Jembut, Panganan Khas Syawalan Semarang

-


Dinamakan Kupat Jembut karena bentuknya yang menyerupai rambut di organ vital manusia.Waktu menunjukkan pagi pukul 05.00 WIB. Surau yang biasanya sepi pengunjung, nampak dijejali para jemaah shalat subuh. Selesai beribadah, ratusan warga itu lalu berhamburan keluar. Ada yang menyalakan petasan, ada juga yang duduk-duduk santai, menunggu hidangan tahunan utama khas syawalan alias seminggu setelah lebaran keluar. Kupat Jembut.
Salah seorang warga menunjukkan Kupat Jembut,
Salah seorang warga menunjukkan Kupat Jembut,
Ya, Kupat Jembut memang jadi penganan khas syawalan warga kampung Jaten Cilik, Taman Tlogomulyo, Pedurungan, Kota Semarang, Jawa Tengah. Bedanya dengan versi biasa, Kupat Jembut memiliki isi tauge dan sambel kelapa. Jadi, warga tak perlu repot-repot memakan kupat menggunakan kuah opor atau sambal goreng.
Salah seorang panitia, Munawir menjelaskan tradisi syawalan Kupat Jembut sudah berlangsung lama sejak tahun 1960. Awal mulanya, sesepuh kampong membuat Kupat Jembut yang berfungsi sebagai makanan darurat saat Gerakan 30/S PKI meletus.
“Warga lalu berkelompok di masjid-masjid sepanjang kampung untuk makan kupat yang tidak memakai kuah,” ujarnya, Rabu (13/7/2016).
Dinamakan Kupat Jembut karena bentuk fisik ketupat yang memang seperti rambut organ vital manusia. Ternyata, makanan ini tidak hanya berisi sayur-sayuran saja, namun juga diselipkan uang saweran sebesar Rp. 2 ribu sampai Rp 10 ribu. Kontan saja banyak anak-anak kecil yang berebut kupat ini saat dibagikan secara gratis di halaman masjid Radhatul Muttaqien.
“Peserta memang kami targetkan untuk anak-anak. Ada sekitar 250 anak yang jadi peserta dari kampung sebalah dan luar kota. Ini jadi berkah buat anak-anak kampung. ada yang dapat 100-80 ribu per anak,” kata dia.
Tiap rumah di kampung tersebut memang diwajibkan membuat Kupat Jembut. Munawir sendiri membuat 100 ketupat untuk dibagikan mulai dari jam lima sampai setengah enam pagi. Membuat Kupat Jembut terbilang mudah. Mulanya, warga membuat terlebih dahulu ketupat menggunakan daun kelapa.
Setelah jadi, anyaman diisi beras dan dimasak selama kurang lebih enam jam. Hingga kemudian beras menjadi matang dan diisi tauge serta sambal kelapa. Munawir menghabiskan 3 kilogram beras dan 1 kilogram kubis dan tauge untuk sambal.
“Itu langsung dimakan tanpa sayur kuah karena sudah ada tauge dan parutan sambel kelapa” tandasnya.
Pada tahun ini sedikit berbeda dengan sebelumnya. Kali ini, acara dibuka menggunakan pesta kembang api dan petasan supaya lebih semarak. Munawir berharap agar tradisi ini bisa berjalan terus menerus dan anak-anak bisa bersuka-cita merayakan syawalan dengan lebih bermakna. (ihy)

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar:

Dreamteknopedia. Diberdayakan oleh Blogger.