Penting memahami bahwa kita tidak memiliki vaksin untuk melawan virus Zika pada tahun ini, bahkan sampai beberapa tahun ke depan,”kata Dr Anthony Fauci dari Institut Alergi dan Penyakit Infeksi Amerika (NIAID). Bahkan percobaan klinis fase 1 baru dapat dilakukan sebelum akhir tahun 2016.
Direktur NIAID itu mengungkapkan bahwa para peneliti sudah mengembangkan vaksin anti demam berdarah dan virus Nil Barat yang masih satu keluarga dengan Zika, Flavivirus, dan hasil penelitian para ahli itu sudah mencapai kemajuan yang bagus.
NIAID melakukan dua pendekatan untuk pengembangan vaksin anti-Zika. Pertama, berbasis pada DNA, sebuah strategi yang segaris dengan strategi anti virus Nil Barat yang uji coba klinisnya fase 1 membuktikan vaksin bekerja dengan baik dan efektif. Kedua, melalui menggunakan virus yang dilemahkan untuk membentuk reaksi kekebalan, seperti yang sudah dicobakan pada virus demam berdarah.
Penelitian lain para ahli untuk vaksin virus-virus tadi berkonsentrasi pada pengembangan perangkat diagnostik dan perangkat model nyamuknya untuk memahami efek virus terhadap kehidupan, terutama terhadap perempuan hamil.
Pengujian pelacakan Zika harus mampu memperlihatkan indikasi, tidak saja pada kasus infeksi sedang bekerja, tetapi juga pada infeksi yang sudah berlalu, hal ini penting untuk meyakinkan perempuan yang sedang menunggu kelahiran anaknya di lokasi endemik, atau para perempuan yang sedang akan pergi ke lokasi endemik.
WHO menyatakan Kamis kemarin akan menyelenggarakan KTT 1 Februari 2016 untuk membicarakan virus Zika, yang saat ini berkembang bagai ledakan bom di Amerika Selatan, dan diperkirakan akan ada 3-4 juta kasus tahun 2016 ini. Sedangkan di Amerika Serikat belum ada catatan warga yang mengidap virus Zika. 


sumber:http://pewartayogya.com/hingga-beberapa-tahun-ke-depan-tidak-ada-vaksin-untuk-virus-zika/